POST MEDIA LITERACY: SUATU UPAYA PEMBERDAYAAN HIDUP DITENGAH DUNIA YANG SESAK MEDIA

Khairin Nizomi

Abstract


Sekarang manusia hidup dalam abad komunikasi massa kehidupan manusia sekarang tak bisa dilepaskan dari media mssa. Keluhan tentang dampak media massa kerap terdengar. Untuk itu perlu kiranya memahami apa itu literasi media. Pemahaman ini penting bagi para pegiat pendidikan melek media agar mampu melakukan kritik terhdap berbagai media yang melanggar aturan dan etika media yang ada di Indonesia sehingga terhindar dari berita yang bohong (hoax). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan jenis penelitian studi kasus pada media social (Facebook). Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Teori Narartive Analysis. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan studi dokumen dan teknik pengambilan sampel menggunakan Proposive Sampling. Hasil dari dari penelitian ini menunjukkan Literasi media sama sekali bukanlah gerakan anti-media. Justru merupakan tindakan yang kita lakukan untuk menjaga media agar tetap bisa menjalankan fungsinya di tengah masyarakat. Dengan melek media, media massa akan memiliki khalayak bukan konsumen yang pada gilirannya akan memengaruhi bagaimana seharusnya media menjalankan peranya. Bila media tetap memperlakukan khalayak sebagai konsumen maka media akan mendapat tekanan dari khalayak. 

 

ABSTRACT


Now humans live in the mass communication age of human life now can’t be separated from the mass media. Complaints about the impact of the mass media are often heard. For that, it is necessary to understand what is media literacy. This understanding is important for media literacy education activists to be able to criticize the media who violate the rules and ethics of the media in Indonesia, so avoid that false news (hoaxes). The method used in this study is descriptive qualitative, with the type of case study research on social media. Analysis of the data in this study using the Narrative Analysis Theory. Data collection techniques in this study using document studies and sampling techniques using Purposive Sampling. The results of this study indicate that media literacy is by no means an anti-media movement. It is precisely the action we take to keep the media to stay functional in society. With media literacy, mass media will have the audience, not the consumer who in turn would affect how the media should carry out its role. If the media still treats the audience as a consumer, then the media will get pressure from the audience. Then to literacy truth of a media (news) could see how the narrative (status) is growing.


Keywords


Media Literacy; Upaya Pemberdayaan; Dunia Yang Sesak Media;

References


Burton, Graeme. (1999). Media Dan Budaya Populer, Yogyakarta: Jalasutra

Erianto. (2013). Analisis Naratif Dasar-Dasar Dan Penerapannya Dalam Analiss Teks Berita Media, Jakarta: Kencana

Iriantara, Yasol. (2009). Literasi Media Apa Mengapa Bagaimana, Bandung: Refika Offset

Ida, Rachmah. (2014). Metode Penelitian Studi Media Dan Kajian Budaya, Jakarta: Kencana

Nur Rochinah Tri Hastuti & junaedi Fajar. (2013). Media Parenting: Panduan Memilih Media Bagi Anak Di Era Informasi, Yogyakarta: Buku Literasi Yogyakarta

Nasrullah, Rulli. (2013). Cyber Media, Yogyakarta: IDEA Pres

Rusyadi, Udin. (2015). Kajian Media Isu Ideologis Dalam Perspektif, Teori Dan Metode, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Syahputra, Iswadi. (2013). Rezim Media, Jakarta: PT Gramedia Putaka Utama

Tamburaka, Apriadi. (2013). Literasi Media Cerdas Bermedia Khalayak Media Massa, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.




DOI: http://dx.doi.org/10.30999/n-jils.v1i2.371

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

N-JILS

Nusantara Journal of Information and Library Studies

Fakultas Ilmu Komunikasi

Universitas Islam Nusantara

Jln. Soekarno-Hatta No.530, Sekejati, Buahbatu, Kota Bandung, Jawa Barat, 40286

Email: jils.uninus@gmail.com